Translate

Recent Comments

Labels

Followers

(2) Apa itu Wahabi?


Pokok-Pokok Landasan Dakwah yang Dicap Sebagai Wahabi

Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka, hal ini akan nampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kita Majmu’ Muallafaat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, jilid 3).

Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim, beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang, ringkasannya sebagaimana berikut: “Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir di sampingku serta kepada anda semua:

(1) Apa itu Wahabi?


Apa itu wahabi?. Pertanyaan yang amat singkat, namun membutuhkan jawaban yang cukup panjang, jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa poin berikut ini:
  • Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan wahabi.
  • Kepada siapa ditujukan tuduhan wahabi tersebut diarahkan?.
  • Pokok-pokok landasan dakwah yang dicap sebagai wahabi.
  • Bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
  • Ringkasan dan penutup.


Penuduh Wahhabi


Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.

Untuk menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam.

Contohnya: Inggris mengulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.

Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor,
  1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.
  2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.
  3. Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.

Dan barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.

Penulis: Ustadz Zainal Abidin, Lc. Dan Artikel ini sebelumnya dipublikasikan oleh Koran Republika, edisi Selasa, 25 Agustus 2009. Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id dengan penambahan beberapa catatan kecil.

 Klik di sini untuk melihat sumber.

Masa Daulah Bani Umayah

  • Kelahiran Daulah Bani Umayah ini berawal dari kemenangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Damaskus) atas kekuasaan Ali bin Abi Thalib.
  • Ibu kota pemerintahan Islam yang semula di Madinah berpindah ke Damaskus.
  • Masa ini merupakan masa kembalinya ashabiyah, tetapi bukan ashabiyah qabaliyah, melainkan ashabiyah sya’biyah, yaitu Fanatisme Bangsa Arab.
Perkembangan Budaya 
  • Kebangkitan kembali perhatian terhadap syair, khususnya syair Jahiliyah. Dimaksudkan selain kebanggaan Bangsa Arab terhadap ketinggian capaian Arab masa silam, juga sebagai bahan bandingan ketinggian Al-Quran.
  • Pemikiran ke arah ini melahirkan penyair-penyair Umar bin Abi Rabi’ah (W. 719 M), Jamil Al-’Uzri (W. 701 M.), Qais bin Mulawwah penulis laila majnun (W. 699 M), Afarazdaq, (W. 732 M), Jarir (W. 792 M), dan Al-Akhthal (W.710 M).
  • Perkembangan asitektur masjid untuk restorasi dan perluasan masjid Nabawi, pembangunan masjid di luar Jazirah Arabia, dan perombakan bangunan Katedral St. John di Damaskus dan Katedral Hims dengan penghilangan identitas nilai-nilai Nasrani. 
Gerakan Ilmiah 
  1. Munculnya gerakan-gerakan ilmiah dalam ilmu keislaman dengan tokoh-tokoh ulamanya antara lain hasan albashri, washil bin atha, syihab alzuhri dengan pusat kegiatan ilmiah keislaman adalah kota kufah dan bashrah.
  2. Gerakan penerjemahan teks-teks dalam naskah yunani dan lainnya ke dalam bahasa arab antara lain mengenai astronomi, kedokteran, dan kimia. Tokoh pertama kegiatan ini Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah.
  3. Pertemuan ilmiah berkala yang dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
  4. Perkembangan pemikiran keagamaan yang maju ini karena perhatian yang besar dari para Khalifah.
  5. Perkembangan filsafat, karena kebutuhan akan pemikiran tajam dalam perdebatan antara sesama muslim dan dengan pihak luar (Nasrani dan Yahudi).
  6. Perkembangan bidang sejarah, karena kebutuhan akan rangkaian perkembangan menuju saat ini.

Masa Shadr Al-Islam

  • Masa shadr Islam adalah masa awal kemunculan Islam di Jazirah Arabia.
  • Masa terdiri atas:
  • - Masa Nabi Muhammad saw (571-632 M/13 H).
    - Masa Khulafa Al-Rasyidin (masa empat khalifah penerus Rasulullah (632-660 M/13-40 H), masa Abu Bakar (631-634 M/11-13 M), Umar bin Khattab (634-644 M/13-23 H), Usman bin Affan (644-655 M/23-35 H), dan Ali bin Abi Thalib (655-660 M/35-40 H) .
Pemikiran Masa Shadr Al-Islam 
  • Penetapan risalah bagi Nabi Muhammad saw 611 M. Membawa perubahan besar pada kehidupan berpikir masyarakat arab.
  • Masyarakat Arab secara bertahap menerima Islam sebagai agama pegangan hidup mereka.
  • Islam menetapkan tingkat martabat manusia berdasarkan tingkat kemampuan manusia dalam menggunakan akal pikirannya dengan hubungannya dengan kebenaran yang diturunkan allah kepada mereka.
  • Islam/Al-Quran memacu manusia untuk memanfaatkan akal pikiran mereka seoptimal mungkin dalam batas-batas kemampuan akal mereka.
  • Islam memerintahkan manusia untuk memelihara akal pikiran mereka dengan,
  • 1) menggunakannya dalam batas kemampuan akal,
    2) menghindari mengonsumsi makanan /minuman yang bisa mengakibatkan kesurakan akal pikiran.
Pengaruh Islam Terhadap Pemikiran Ilmiah 
  • Proses penulisan teks alquran lansung setelah n.mumammad menerimanya ayat demi ayat dalam tempo turunannya selama 23 tahun, dan penulisannya dalam sebuah buku dilakukan dalam waktu yang tidak lama dari masa penurunannya. Semua ini telah membuat tingkat keutuhan dan ketepatan teks alquran sesuai dengan aslinya.
  • Perkembangan aksara Arab untuk penulisan ayat-ayat Al-Quran telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama setelah Islam berkembang jauh keluar masyarakat Arab (pembubuhan titik, syakal, dan tanda baca lainnya).
  • Diturunkannya Al-Quran sebagai pedoman hidup muslim menuntut setiap individu muslim untuk memahaminya degan baik dan konprehensif. Untuk hal tesebut tuntutan bagi setiap muslim untuk memahami aksara dan bahasa Al-Quran, dan itulah aksara dan bahasa Arab. 
Perkembangan Ilmu Bahasa 
  • Kebutuhan akan pemahaman yang benar terhadap Al-Quran mendorong lahirnya ilmu kebahasaan yang berkaitan dengan aksara dan bahasa Arab.
  • Bermunculan ilmu para ahli yang mendalami bahasa Al-Quran seperti Abu Al-Aswad Al-Dualy.

Fenomena Berpikir Bangsa Arab

  • Bagaimana menemukan cara pandang, pola pikir bangsa arab masa pra-islam ?
  • Semua hanya didapat dari peninggalan mereka yang masih tersisa seperti prasasti, naskah, atau cerita-cerita yang diwariskan secara turun temurun.
  • Ada empat fenomena berfikir bangsa arab yang masih bisa diidentifikasi dan bisa memberikan gambaran bagaimana cara pandang dan pola pikir bangsa arab masa pra-islam yaitu bahasa, syair, amstal (peribahasa), dan alqashash (kisah dan cerita rakyat). 

Bahasa Sebagai Fenomena Berfikir
  • Bahasa Arab yang digunakan bisa dijadikan ukuran cara pikir mereka.
  • Bahasa Arab badewi menggambarkan bahwa tahap berpikir mereka terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan dasar manusia.
  • Banyak faktor kesulitan menemukan hal-hal yang bisa menggambarkan kekayaan perbendaharaan kata, gaya bahasa yang dimiliki bangsa arab pra-islam.
  • Beberapa faktor kesulitan:
  • A. Tiada peninggalan tertulis baik prasasti dan dokumen maupun naskah.
    B. Bangsa arab terpecah dalam kabilah-kabilah mengakibatkan banyaknya dialek dan bahasa kabilah yang hanya berlaku intern dan tidak dikenal oleh kabilah lainnya.
    C. Banyak kata-kata arab justru muncul masa islam dan tidak diketahui bahasa dan kata-kata yang digunakan masa pa-islam 
Syair Sebagai Fenomena Berfikir 
  • Syair-syair peninggalan masa pra-islam menunjukkan bahwa para penyair saat itu merupakan ahlu alma’rifah dalam kabilahnya, yaitu paling mengetahui segala aspek kehidupan kabilahnya.
  • Para penyair merupakan orang-orang yang memiliki taraf berfikir paling tinggi dalam kabilahnya.
  • Syair peninggalan pra-islam menggambarkan cara pandang, cara pikir mereka. 
Syair-syair Peninggalan Masa Pra-Islam 
  • المعلقات السبع - kumpulan hammad al-rawiyah
  • المفضـليات - sekitar 128 qasidah kumpulan almufaddhal aldhibby. 
  • ديوان الحمـاسـة – kumpulan penggalan-penggalan syair jahily karya abu tamam
  • الحمـاسـة البختري 
  • الشـعر والشـعراء - الاغـاني karya ibnu qataibah 
  • مخـتارات - karya ibnu syajary 
  • جمهرت اشـعار العـرب karya abu zaid alqurasyi
syair-syair ini berasal dari masa 150 tahun sebelum islam 

Amtsal Sebagai Fenomena Berpikir 
  • Amtsal (peribahasa) telah lama digunakan oleh masyarakat arab dalam berbahasa seperti bentuk tasybih, karena adanya kesamaan antara dua peristiwa.
  • Amtsal berasal dari pengalaman pribadi dan selanjutnya berkembang digunakan banyak orang dan menjadi bahasa umum.
  • Sebagian amtsal berkembang dan digunakan oleh banyak kabilah, tetapi sebagian amtsal hanya berlaku dan dipahami noleh satu kabilah saja.
  • Data amtsal pra-islam sangat terbatas pada amtsal yang memiliki nilai sejarah dan moral yang dipertahankan.
  • Penggunaan amtsal pra-islam terus berlangsung sampai masa islam, dan bersatu dan sulit dibedakan.
  • Kesulitan membedakan amtsal pra-islam dengan amtsal berikutnya adalah akibat amtsal tidak diketahui sejarah kelahirannya dan umumnya disusun secara alfabetis. 
Al-Qashash Sebagai Fenomena Berpikir 
  • Kisah dan cerita menarik berkembang dalam masyarakat arab khususnya yang berkaitan dengan sejarah kabilah mereka.
  • Cerita-cerita tsb. Menjadi milik masyarakat/cerita rakyat dan diceritakan turun temurun.
  • Alqashash menggambarkan cara pikir dan tingkat budaya mereka.
  • Beberapa kisah terkenal:
  • > Ayyam Al-’Arab ( ايـام العـرب)
    - cerita yang berkisar sekitar peperangan antar-kabilah arab.
    - peperangan antar-kabilah a.l. yaum dahisy, yaum alghubara, yaum alfujjar, yaum alkullab.
    - peperangan antar-bangsa a.l. yaum dzi qar, gambaran dari kemenangan bani syaibar mengalahkan persia.
    > Ahadits Al-Hawa (احادث الهـوى ), yaitu kisah-kisah percintaan yang banyak ditemukan pada karya-karya sastra pra-islam.
    > Qashash berasal dari luar seperti dari yunani qisah syarik dan munzir, dan ada pula qisah yang berasal dari persia

Bangsa Arab Lama dan Tingkat Pemikirannya


  • Kehidupan masyarakat arab lama dikenal dengan sipat badawahnya.
  • Taraf berpikir juga terbatas pada pandangan dan pola pikir badawahnya yang sangat bersahaja.
  • Dalam pemikiran ketuhanan mereka masih pada tahap anymisme yang dalam pandangan islam dikenal dengan sebutan jahiliyah.
  • Salah satu ciri dari tingkat berpikir mereka adalah  ضعف التعليل/ dhu’fu at-ta’lil, yaitu lemah atau tidak memiliki kemampuan mengaitkan antara ‘illat dan ma’lul (antara sebab dan akibat). 
Dhu’fu At-Ta’lil
  • Merupakan suatu fenomena (gejala) berfikir masyarakat primitif, masyarakat yang masih bersahaja.
  • Keyakinan yang sangat kuat yang bersifat anymistis dan penuh khurafat mendasari pola pikir mereka. Pemikiran mereka masih tradisional, apatis, dan cenderung irrasional.
  • Segala fenomena alam yang menimpa mereka atau berada di sekitar mereka selalu dikaitkan dengan keyakinan akan roh-roh yang mereka yakini berkuasa, sehingga reaksi yang muncul adalah bentuk-bentuk ritual yang berkaitan dengan roh-roh tersebut.
  • Dalam mengatasi berbagai problema kehidupan, mereka mencari hubungan dengan roh-roh untuk menemukan penyebab terjadinya berbagai fenomena dan bagaimana mendapatkan solusi yang dianggap mampu melepaskan mereka dari hal-hal yang tidak mereka inginkan.
  • Dalam masyarakat seperti ini muncul tokoh-tokoh yang dianggap mampu berkomunikasi dengan roh-roh yang dianggap berkuasa dan pada masyarakat arab lama dikenal dengan sebutan kahin (dukun).
Faktor Pembentuk

Ada dua faktor pembentuk cara pandang dan pemikiran bangsa arab.
  1. Al-Biah At-Thabi’iyyah / البيـئة الطبيـعية (lingkungan alam). Padang pasir yang gersang, bukit-bukit batu yang terjal, terik matahari yang langsung menyengat kulit, udara kering, sulitnya air, desir pasir yang dimainkan angin, gemerlap bintang di langit tanpa aling-aling, heningnya malam, dll. Telah membentuk pribadi dan kelompok (kabilah) bangsa arab dari berbagai aspeknya termasuk aspek cara pandang dan pemikiran mereka.
  2. Al-Biah Al-Ijtima’iyyah / البيـئة الاجتماعية  (lingkungan sosial). Lingkungan masyarakat yang  terbatas pada satu kabilah, berasal dari satu keturunan yang sama, memiliki tradisi yang sama yang diturunkan dari nenek moyang mereka, dan mereka pertahankan  tradisi pandangan dan cara pikiran sebagai pusaka nenek moyang yang berharga, dan tidak ada kesanggupan akan mengubahnya.