Translate

Recent Comments

Followers

Membuat Efek Zoom Pada Gambar Postingan Blog

Kali ini saya ingin berbagi kepada sobat blogger bagaimana cara Membuat Efek Zoom Pada Gambar Postingan Blog. Memang cara ini sudah begitu lama di terapkan oleh sobat blogger namun tak ada salahnya kalau saya mengulas lagi artikel Membuat Efek Zoom Pada Gambar Postingan agar sobat blogger khususnya yang masih pemula agar tahu, seperti owner blogger ini yang masih pemula.

Sebenarnya cara ini mudah sekali dan tidak merepotkan, hanya dengan tambahan kode sedikit maka efek zoom untuk gambar postingan akan berubah, seperti apa yang di inginkan dan hal ini menjadi kebanggaan yang unik bagi sobat blogger yang baru. Anda bisa lihat efek zoom gambar di postingan.

Bisa di lihat contoh gambar di postingan ini apabila sudah mencoba mengarahkan cursor ke gambar, maka akan memberikan efek zoom. Kalau anda sudah melihat gambar di atas mari kita mulai tutorial membuat efek zoom pada gambar postingan:
  1. Silahkan anda login ke blogger
  2. Menuju edit tamplate. jangan lupa untuk centang expand widget
  3. Cari kode ]]</b:skin> (untuk memudahkan silakan tekan Ctrl+F dan masukan kode ]]</b:skin>)
  4. Kalau sudah ketemu silahkan copy kode dibawah ini dan paste di atas kode ]]</b:skin>.

.post img:hover {
-moz-trnasform: scale(1.3) ;
-webkit-transform: scale(1.3);
-o-transform: scale(1.3)  ;
-ms-transform: scale(1.2)  ;
transform: scale(1.3) ;}


NB: kalau dalam template anda ada kode .post img:hover sebelum kode yang akan anda taruh alangkah baiknya kalau anda hapus dulu.

Semoga postingan ini bermanfaat buat sobat blogger.

Menghilangkan Kode Trbidi= "on" di Editor Posting Blogger


Sobat semuanya, mungkin diantara sobat saat ini ada yang ingin menghilangkan kode <div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"><br /></div>. Kode ini biasanya muncul pada saat akan posting artikel dalam mode HTML.

Pada sebagian blogger, kode trbidi="on" ini agak menggangu, makanya banyak yang menghilangkan kode trbidi="on".

Untuk itu jika sobat ingin menghilangkan kode trbidi="on" pada editor posting blogger, ada cara untuk menghilangkannya. Sebenarnya sangat mudah caranya, yaitu:

  1. Login ke blogger.com
  2. Pilih blog yang mau dihilangkan kode trbidi="on"
  3. Pilih Setelan-Bahasa dan pemformatan
  4. Pada "Aktifkan transliterasi", pilih dinonaktifkan. Lihat screenshootnya:


  5. Kemudian simpan setelan dan lihat hasilnya.
Itulah cara menghilangkan kode trbidi="on" pada editor posting blogger. Semoga ada manfaatnya.


Sejarah Penyimpangan Manusia


Secara fitrah, manusia mengakui sifat uluhiyah Allah, cinta kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Namun setan dari kalangan jin dan manusia saling bahu-membahu menghiasi berbagai penyimpangan dengan hiasan-hiasan yang menipu sehingga memalingkan jiwa manusia dari fitrahnya yang lurus itu. Tauhid adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam fitrah seseorang, sedangkan syirik adalah pengaruh dari luar yang masuk ke dalamnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum: 30) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani ataupun majusi” (HR. Bukhari 1319).

Oleh karena itu manusia pada asalnya adalah bertauhid, dan Islam adalah agama yang diyakini dari zaman Nabi Adam ‘alaihis salam sampai beberapa generasi setelah beliau. Allah ‘azza wa jallaa berfirman yang artinya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan” (QS. al-Baqarah: 213).

Awal mula kesyirikan dan penyimpangan dari akidah yang benar terjadi pada kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, ketika mereka bersikap melampaui batas terhadap orang-orang shalih. Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

Imam Bukhari rahimahullaah meriwayatkan dalam kitab Shahih beliau dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma tentang asal berhala-berhala tersebut. Ibnu ‘Abbas berkata: “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika orang-orang shalih itu meninggal, setan membisikan kepada kaum orang-orang shalih ini untuk membuat patung yang diberi nama dengan nama-nama mereka dan meletakkannya di tempat-tempat yang biasa mereka gunakan untuk duduk-duduk. Hal ini pun dikerjakan dan saat itu patung-patung tersebut belum disembah. Namun ketika orang-orang yang membuat patung-patung ini mati dan ilmu semakin hilang, patung-patung itu pun akhirnya disembah” (HR. Bukhari 4539).

Ibnul Qoyyim rahimahullaah berkata: “Beberapa orang dari kalangan salaf berkata: “Ketika orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh itu meninggal, orang-orang berdiam diri di kubur-kubur mereka, kemudian membuat patung-patung untuk memperingati mereka. Namun lama-kelamaan akhirnya orang-orang menyembah patung-patung itu” (Ighatsatul Lahafan juz 1 hal. 115).

Oleh karena itulah Nabi Nuh ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengembalikan mereka kepada akidah yang lurus. Dengan demikian, beliau adalah Rasul pertama yang Allah utus di muka bumi. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya” (QS. an-Nisaa: 163).

Ibnu ‘Abbas radhiallah ‘anhu berkata: “Masa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh sekitar sepuluh abad, dan orang-orang yang ada di masa itu seluruhnya berada di atas akidah Islam”. Ibnul Qayyim mengatakan: “Ini adalah pendapat yang bisa dipastikan kebenarannya, karena dalam bacaan ‘Ubay bin Ka’ab terhadap ayat ini, yaitu surat al-Baqarah ayat 163, terdapat lafadz ‘fakhtalafuu fiih’ yang artinya adalah “kemudian terjadi perselisihan diantara mereka”. Dan yang menguatkan bacaan ini adalah firman Allah ta’ala dalam al-Quran surat Yunus ayat 19, yang artinya: “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih”. (Ighatsatul Lahafan hal 102 juz 1).

Maksud perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah ini ialah, bahwasanya sebab diutusnya para nabi adalah karena menyimpangnya manusia dari agama yang benar, yang sesungguhnya telah menjadi keyakinan mereka sebelumnya. Sebagaimana hal ini terjadi pada bangsa Arab setelah itu, di mana mereka berada di atas agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sampai datang seorang yang bernama ‘Amr bin Luhay al-Khuza’i, yang mengganti agama Ibrahim tersebut dengan membawa patung-patung dalam bentuk-bentuk yang khusus ke tanah Arab dan negeri Hijaz. Kemudian patung-patung itu menjadi sesembahan selain Allah, dan tersebarlah kesyirikan di negeri yang suci ini dan sekitarnya, sampai Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaih wa sallam, sebagai penutup para Nabi.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wa sallam menyerukan manusia untuk mentauhidkan Allah subhaanahu wa ta’ala dan mengikuti agama Nabi Ibrahim. Beliau sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah ‘azza wa jallaa ini, sampai akhirnya akidah tauhid dan agama Ibrahim itu kembali ke negeri Arab, dan patung-patung itu pun dihancurkan. Lalu Allah menyempurnakan agama dan anugerah ini ke seluruh dunia. Keyakinan ini terus di anut dimasa-masa terbaik, yaitu pada generasi pertama umat ini. Sampai kebodohan tersebar dan ajaran-ajaran agama lain dimasukkan ke dalam agama Islam pada masa-masa belakangan. Kesyirikan kembali merasuki banyak orang dari umat ini dengan sebab para juru dakwah yang sesat dan pendirian bangunan di atas kuburan dengan dalih memuliakan dan mencintai para wali dan orang-orang shaleh, dibangunlah pusara-pusara di atas kubur mereka, dan akhirnya mereka dijadikan berhala-berhala yang diibadahi dengan berbagai macam amalan taqarrub yang seharusnya hanya dipersembahkan kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, seperti doa, istighatsah, menyembelih hewan kurban, bernazar, dan lain-lain. Namun demikian, kesyirikan ini mereka namakan sebagai tawassul dan sebagai ungkapan rasa cinta kepada para wali atau orang-orang shaleh. Mereka menyangka perkara-perkara ini bukanlah bentuk peribadatan kepada para wali atau orang-orang shaleh tersebut. Mereka lupa bahwa ini adalah perkataan orang-orang musyrik zaman dahulu: “Kami tidak beribadah kepada mereka, (kami tidak berbuat ini)  melainkan agar mereka bisa menjadikan kami lebih dekat lagi kepada Allah”.

Kesyirikan-kesyirikan yang terjadi dalam kehidupan manusia pada zaman dahulu dan sekarang adalah dalam perkara ibadah, karena mayoritas mereka tetap meyakini sifat Rububiyah Allah subhaanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS. Yusuf: 106).

Tidak ada yang mengingkari keberadaan Allah kecuali segelintir orang saja, seperti Fir’aun, orang-orang atheis, komunis, dan materialis yang ada di zaman ini. Pengingkaran ini terjadi hanya karena kesombongan, sebab pada dasarnya batin dan lubuk hati mereka meyakini keberadaan Allah subhaanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya” (QS. an-Naml: 14).

Akal mereka pun dapat mengetahui bahwa setiap yang diciptakan pasti ada yang menciptakannya dan setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya. Keteraturan alam semesta yang sangat berkesinambungan dan begitu mendetail ini juga mengantarkan akal manusia pada keyakinan bahwa alam ini pasti diatur oleh satu pihak yang Maha Menguasai segala sesuatu, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Orang yang mengingkari hal ini hanyalah orang yang telah kehilangan akal sehatnya atau orang sombong yang telah membuang akalnya dan membodohi dirinya sendiri.


Sumber: Al Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad & Kitab Tauhid. Syaikh Shalih Fauzan; sunnah.or.id

Wasiat Luqman Kepada Anaknya


Perkara mendidik anak-anak merupakan perkara yang begitu penting. Islam memberikan perhatian yang begitu besar dalam perkara ini. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur`an Allah subhaanahu wata’aala menyebutkan berbagai kisah pendidikan yang penuh dengan manfaat, seperti kisah Luqman al-Hakim yang berwasiat kepada anaknya dengan wasiat yang sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga. Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya. ” Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13) Waspadalah terhadap kesyirikan di dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wata’aala, seperti memintaminta kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, atau kepada orang yang sedang tidak hadir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Do’a adalah ibadah.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Ketika diturunkan firman Allah subhaanahu wata’aala, yang artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik).” (Al-An’aam: 82) Ayat ini terasa begitu berat bagi kaum muslimin ketika itu. Mereka pun berkata: “Siapa di antara kita yang tidak pernah menzhalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Bukan seperti itu yang dimaksud oleh ayat ini. Yang sebenarnya dimaksud adalah kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14) Di dalam ayat ini Allah subhaanahu wata’aala mengaitkan wasiat-Nya untuk beribadah hanya kepada-Nya, dengan wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua karena hak mereka yang begitu besar. Seorang ibu mengandung anaknya dengan susah payah, sedangkan sang ayah menanggung nafkah bagi keluarganya. Seorang anak sudah selayaknya bersyukur kepada Allah subhaanahu wata’aala dan berterima kasih pada kedua orang tuanya.

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut dengan ringkasan sebagai berikut: “Maksud dari ayat ini adalah hendaknya Anda benar-benar membimbing kedua orang tua Anda agar berjalan di atas agama yang benar. Jangan Anda mematuhi perintah mereka untuk menyekutukan Allah subhaanahu wata’aala. Namun hal itu juga jangan sampai menghalangi Anda untuk bergaul dengan keduanya dengan baik tatkala di dunia. Dan ikutilah jalan yang ditempuh oleh orang-orang beriman.” Penjelasan ini dipertegas dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk  dalam hal bermaksiat kepada Khaliq. Sesungguhnya ketaatan (kepada makhluk) itu hanya dalam perkara kebaikan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Luqman: 16) Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Yaitu, kezaliman atau kesalahan meski seberat biji sawi, niscaya Allah subhaanahu wata’aala akan memperlihatkannya ketika hari kiamat di saat Allah subhaanahu wata’aala meletakkannya di atas timbangan keadilan, dan niscaya Allah subhaanahu wata’aala akan memberinya balasan. Jika amalan itu baik, seorang akan mendapat kebaikan. Dan jika buruk, ia pun akan mendapat keburukan.”

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat.” (Luqman: 17) Maksudnya, laksanakanlah shalat dengan rukun dan kewajibannya secara penuh khusyu’. Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.” (Luqman: 17) Maksudnya, suruh dan cegahlah mereka dengan lemah lembut tanpa menggunakan cara-cara yang berlebihan. Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (Luqman: 17) Karena perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar sudah tentu akan menghadapi rintangan dan gangguan, Allah memerintahkan untuk bersabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya: “Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, lebih utama daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan derajat yang shahih) Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman: 17) Yakni bersabar atas gangguan manusia benar-benar perkara yang ditekankan dan diwajibkan.

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong).” (Luqman: 18) Maksudnya, janganlah Anda memalingkan wajah Anda dari orang lain jika Anda tengah berbicara dengan mereka, atau mereka tengah berbicara dengan Anda karena Anda meremehkan mereka dan bersikap angkuh terhadap mereka. Namun lembutkanlah hati Anda dan hadapkanlah muka Anda kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tersenyum di hadapan saudaramu terhitung sebagai shadaqah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya dengan derajat yang shahih) Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (Luqman: 18) Yakni berjalan dengan sikap sombong karena ujub terhadap dirinya sendiri, dan suka membanggakan diri sendiri kepada orang lain, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan.” (Luqman: 19) Yakni berjalanlah dengan wajar, tidak terlalu lambat dan tidak pula terlalu cepat atau terburu-buru. Allah berfirman yang artinya “Dan lunakkanlah suaramu.” (Luqman: 19) Yakni janganlah Anda berlebih-lebihan dalam berbicara, dan janganlah mengangkat suara yang tidak ada faidahnya. Oleh karena itu Allah subhaanahu wata’aala berfirman yang artinya “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19) Mujahid mengatakan: “Sesungguhnya suara yang paling buruk ialah suara keledai, maksudnya orang yang mengeraskan suaranya serupa dengan keledai dalam hal kesombongan dan kecongkakan. Sehingga ia akan dibenci oleh Allah subhaanahu wata’aala. Keserupaan dengan keledai ini haram dan sangat tercela. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tidak sepatutnya kita  memiliki permisalan yang buruk. Seorang yang menarik kembali pemberiannya adalah semisal anjing yang kembali menelan muntahnya.” (HR. Bukhari) Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya: “Jika kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia kepada Allah, karena ayam itu melihat malaikat. Dan jika kalian mendengar suara keledai, berlindunglah kepada Allah dari gangguan setan, karena keledai itu melihat setan.” (Muttafaqun ‘alaih) (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/446)

Beberapa pelajaran berharga dari ayat-ayat di atas:

  1. Seorang ayah disyariatkan untuk berwasiat kepada anaknya dengan pesan-pesan yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.
  2. Perkara yang harus diajarkan pertama kali adalah tauhid dan bahaya syirik, karena kesyirikan adalah kezhaliman yang bisa membatalkan amal.
  3. Wajibnya bersyukur kepada Allah subhaanahu wata’aala, berterima kasih pada kedua orang tua, berbuat baik pada mereka, dan menyambung tali silaturrahim dengan mereka.
  4. Wajibnya taat pada kedua orang tua dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah subhaanahu wata’aala, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya: “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk dalam hal bermaksiat kepada Khaliq. Sesungguhnya ketaatan (kepada makhluk) itu hanya dalam perkara kebaikan saja.” (Muttafaqun ‘alaih)
  5. Wajibnya mengikuti jalan orang-orang beriman dan mentauhidkan Allah subhaanahu wata’aala, dan haramnya mengikuti para ahlul bid’ah.
  6. Hendaklah seseorang senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhaanahu wata’aala baik saat sendiri maupun bersama orang banyak, dan tidak meremehkan kebaikan dan keburukan meski kecil dan sedikit.
  7. Wajibnya menegakkan shalat dengan rukun dan kewajibannya, serta dengan penuh tuma`ninah.
  8. Wajibnya memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan landasan ilmu, sikap lemah lembut sesuai dengan batas kemampuan, hikmah dan nasihat yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa di antara kalian ada yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tetap tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (Muttafaqun ‘alaih)
  9. Bersabar atas cobaan dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan kesabaran ini merupakan sesuatu yang sangat ditekankan.
  10. Haramnya takabur dan berjalan dengan sikap sombong.
  11. Bersikap wajar ketika berjalan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
  12. Tidak berteriak terlampau keras melebihi kebutuhan, karena tindakan tersebut merupakan kebiasaan keledai.
  13. Bersikap pertengahan dalam setiap perkara.


Sumber: Kaifa Nurabbi Awladana wa maa Huwa Wajibul Aabaa` wal Abnaa`, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahullah (pengajar di Darul Hadits Al-Khairiah, Mekah); sunnah.or.id


Tukar Link

Copy code link di bawah ini pada blog anda

Sharing Sciences Various and Informations


Friend Link Banner

Auto Backlink Gratis Indonesia : Top Link Indo


PetikMakna

Friend Link Teks



Silakan tinggalkan komentar jika ingin memasang link banner beserta alamat website anda, agar saya dapat langsung mengeceknya dan untuk link teks cukup mengisi form yang sudah disediakan.

Daftar Isi



Membuat Kotak Script Posting Blog Tanpa Scrol


Membuat Kotak Script Posting Blog Tanpa Scrol | Membuat kotak script tanpa scrol pada postingan, mungkin sobat pernah melihat kotak-kotak yang berisikan script? Pastilah akan sangat sering dijumpai dengan kotak script di posting-posting tentang tutorial blog, Edit Template dll. Kali ini saya posting cara membuat kotak script tanpa scrol. Sebelum sobat membuat kotak script tanpa scrol di postingan alangkah baiknya sobat melihat bentuk kotak script yg akan sobat buat, yaitu screenshotnya seperti ini:
Kotak script tanpa scrol

Mari kita simak cara membuat kotak script tanpa scroll di Postingan Blog.
  1. Login ke Blogger
  2. Pilih Post >> Entri Baru
  3. Masukan script yg ingin di buat Kotak Script
  4. Di situ  ada 2 opsi, yaitu Compose dan HTML, pilih yg HTML
  5. Copy script berikut ini di atas script yg ingin di buatkan kotak script, kemudian simpan dan lihat hasilnya.

  6. <div style="border: 1px solid #000000; height: auto; overflow: auto; padding: 5px; width: auto;">

    Kode/Script yg ingin di masukan
    </div>

Merubah Tampilan Popular Post Menjadi Keren


Merubah Tampilan Pupular Post Menjadi Keren | Pada Postingan kali ini saya posting tentang cara merubah tampilan Popular Post menjadi keren agar blog menjadi lebih menarik.  Bisa di lihat pada tampilan Screenshot.
Widget Popular Post ini akan lebih manis lagi jika dipasang di sidebar blog. Supaya pengunjung mengetahui keberadaannya, dan supaya tampilan blog lebih indah lagi.
Berikut screenshotnya:



Yang dibawah ini adalah screenshotnya ketika salah satu Popular Post di sorot mouse:



Berikut ini adalah langkah-langkah memasangnya:
  1. Login akun blogger sobat
  2. Menuju ke menu Tata Letak
  3. Sebelumnya tambahkan Widget Popular Post terlebih dahulu pada blog sobat dengan cara klik menu Tata Letak, tambah Gadget, Popular Post / Entri Popular, pilih 7 hari terakhir, centang Thumbnail gambar, boleh centang Cuplikan (jika di centang maka akan terlihat seperti di screenshot) ! Jika sudah, simpan.
  4. Kemudian, Tambah gadget kembali, Pilih Html Javascript, masukan Semua kode dibawah ini:

    <script
    language='Javascript'>document.write(unescape('%3C%73%74%79%6C%65%3E%0A%2E%50%6F%70%75%6C%61%72%50%6F%73%74%73%20%2E%69%74%65%6D%2D%74%69%74%6C%65%7B%64%69%73%70%6C%61%79%3A%6E%6F%6E%65%7D%0A%2E%50%6F%70%75%6C%61%72%50%6F%73%74%73%20%75%6C%20%6C%69%20%7B%62%61%63%6B%67%72%6F%75%6E%64%3A%20%6E%6F%6E%65%20%72%65%70%65%61%74%20%73%63%72%6F%6C%6C%20%30%20%30%20%74%72%61%6E%73%70%61%72%65%6E%74%3B%66%6C%6F%61%74%3A%20%6C%65%66%74%3B%6C%69%73%74%2D%73%74%79%6C%65%3A%20%6E%6F%6E%65%20%6F%75%74%73%69%64%65%20%6E%6F%6E%65%3B%6D%61%72%67%69%6E%3A%20%33%70%78%20%21%69%6D%70%6F%72%74%61%6E%74%3B%70%61%64%64%69%6E%67%3A%20%30%20%21%69%6D%70%6F%72%74%61%6E%74%3B%7D%0A%2E%50%6F%70%75%6C%61%72%50%6F%73%74%73%20%75%6C%20%6C%69%20%69%6D%67%20%7B%70%61%64%64%69%6E%67%3A%33%70%78%3B%62%61%63%6B%67%72%6F%75%6E%64%3A%23%66%65%66%65%66%65%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%30%20%31%70%78%20%31%70%78%20%23%33%65%37%38%62%33%3B%2D%6D%6F%7A%2D%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%30%20%31%70%78%20%31%70%78%20%23%33%65%37%38%62%33%3B%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%30%20%31%70%78%20%31%70%78%20%23%33%65%37%38%62%33%3B%66%6C%6F%61%74%3A%6C%65%66%74%3B%6D%61%72%67%69%6E%3A%30%20%36%70%78%20%30%20%30%3B%70%6F%73%69%74%69%6F%6E%3A%72%65%6C%61%74%69%76%65%3B%6F%76%65%72%66%6C%6F%77%3A%68%69%64%64%65%6E%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%62%6F%72%64%65%72%2D%72%61%64%69%75%73%3A%31%30%30%70%78%3B%2D%6D%6F%7A%2D%62%6F%72%64%65%72%2D%72%61%64%69%75%73%3A%31%30%30%70%78%3B%62%6F%72%64%65%72%2D%72%61%64%69%75%73%3A%31%30%30%70%78%3B%20%2D%6F%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%3B%2D%6D%6F%7A%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%7D%0A%2E%50%6F%70%75%6C%61%72%50%6F%73%74%73%20%75%6C%20%6C%69%20%69%6D%67%3A%68%6F%76%65%72%20%7B%70%61%64%64%69%6E%67%3A%33%70%78%3B%62%6F%72%64%65%72%2D%72%61%64%69%75%73%3A%35%70%78%3B%2D%6F%2D%74%72%61%6E%73%66%6F%72%6D%3A%73%63%61%6C%65%28%31%2E%32%29%20%20%74%72%61%6E%73%6C%61%74%65%28%30%70%78%29%3B%2D%6D%6F%7A%2D%74%72%61%6E%73%66%6F%72%6D%3A%73%63%61%6C%65%28%31%2E%32%29%74%72%61%6E%73%6C%61%74%65%28%30%70%78%29%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%74%72%61%6E%73%66%6F%72%6D%3A%73%63%61%6C%65%28%31%2E%32%29%74%72%61%6E%73%6C%61%74%65%28%30%70%78%29%3B%2D%6F%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%3B%2D%6D%6F%7A%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%74%72%61%6E%73%69%74%69%6F%6E%3A%61%6C%6C%20%31%2E%35%73%20%65%61%73%65%3B%2D%6D%6F%7A%2D%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%20%30%70%78%20%30%70%78%20%35%30%70%78%20%23%35%35%35%35%35%35%3B%2D%77%65%62%6B%69%74%2D%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%30%70%78%20%30%70%78%20%35%30%70%78%20%23%35%35%35%35%35%35%3B%62%6F%78%2D%73%68%61%64%6F%77%3A%20%30%70%78%20%30%70%78%20%35%30%70%78%20%23%35%35%35%35%35%35%3B%7D%0A%3C%2F%73%74%79%6C%65%3E%0A%3C%64%69%76%20%73%74%79%6C%65%3D%22%70%6F%73%69%74%69%6F%6E%3A%20%66%69%78%65%64%3B%20%62%6F%74%74%6F%6D%3A%20%30%70%78%3B%20%72%69%67%68%74%3A%20%30%70%78%3B%22%3E%0A%3C%61%20%68%72%65%66%3D%22%68%74%74%70%3A%2F%2F%68%65%72%6D%61%6E%62%61%67%75%73%2E%62%6C%6F%67%73%70%6F%74%2E%63%6F%6D%22%20%72%65%6C%3D%22%64%6F%66%6F%6C%6C%6F%77%22%20%74%61%72%67%65%74%3D%22%5F%62%6C%61%6E%6B%22%20%73%74%79%6C%65%3D%22%6D%61%72%67%69%6E%2D%74%6F%70%3A%2D%32%35%70%78%22%3E%2E%3C%2F%61%3E%0A%3C%61%20%68%72%65%66%3D%22%68%74%74%70%3A%2F%2F%68%65%72%6D%61%6E%62%61%67%75%7A%2E%62%6C%6F%67%73%70%6F%74%2E%63%6F%6D%22%20%72%65%6C%3D%22%64%6F%66%6F%6C%6C%6F%77%22%20%74%61%72%67%65%74%3D%22%5F%62%6C%61%6E%6B%22%20%73%74%79%6C%65%3D%22%6D%61%72%67%69%6E%2D%74%6F%70%3A%2D%32%35%70%78%22%3E%2E%3C%2F%61%3E%0A%3C%2F%64%69%76%3E'));</script>
  5. Simpan dan lihat hasilnya. Semoga membuat tampilan blog sobat menjadi lebih keren dan bermanfaat :)

Al-Farabi


Dunia mendaulatnya sebagai 'Mahaguru Kedua' setelah Aristoteles. Julukan itu disematkan kepada Abu Nasr Muhammad ibnu Al-Farakh Al-Farabi, seorang pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Karena kiprah, jasa dan dedikasinya sebagai seorang filsuf dan ilmuwan terbaik di zamannya, telah membuat Al-Farabi didaulat sebagai guru kedua setelah pemikir besar Yunani kuno tersebut. Filsuf Islam yang dikenal di dunia barat dengan nama Alpharabius itu adalah sosok ilmuwan yang serba bisa. Tidak seperti ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya. Tidak ada pula muridnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya, ibnu Sina.  Tidak heran bila muncul beragam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi.
Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, ibnu Abi Osaybe'a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabi berasal dari Persia. Muhammad ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berasal dari sebuah keluarga Persia. Namun, menurut ibnu An-Nadim, Al-Farabi berasal dari Faryab di Khurasan. Faryab adalah nama sebuah provinsi di Afghanistan. Keterangan itu diperoleh oleh An-Nadim dari temannya bernama Yahya ibnu Adi yang dikenal sebagai murid terdekat Al-Farabi. Sejumlah ahli sejarah dari Barat, salah satunya Peter J King, juga menyatakan Al-Farabi berasal dari Persia. Berbeda dengan pendapat para ahli di atas, ahli sejarah abad pertengahan, ibnu Khallekan, mengklaim bahwa Al-Farabi lahir di sebuah desa kecil bernama Wasij di dekat Farab (sekarang Otrar berada di Kazakhstan). Konon, ayahnya berasal dari Turki. Menurut Encyclopedia Britannica, Al-Farabi juga berasal dari Turki.
Al-Farabi lahir sekitar tahun 870 M. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di tanah Farab. Di kota yang didominasi pengikut mazhab Syafi'i itulah Al-Farabi menempuh pendidikan dasarnya. Sejak belia dia sudah dikenal memiliki otak yang cerdas. Ia juga memiliki bakat yang begitu besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajarinya. Setelah menyelesikan studi dasarnya, Al-Farabi hijrah ke Bukhara untuk mempelajari ilmu fikih dan ilmu-ilmu lainnya. Ketika itu, Bukhara merupakan ibukota dan pusat intelektual serta religius Dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia.  Saat itu, Bukhara dipimpin oleh Nashr ibnu Ahmad (874-892). Pada masa itulah Al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Di kota itu pula Al-Farabi muda mulai mengenal dan mempelajari musik.
Pada masa pemerintahan Nashr ibnu Ahmad (874-892) Al-Farabi sempat menjadi seorang qadhi (hakim). Setelah melepaskan jabatan tersebut, Al-Farabi hijrah ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian serta filsafat. Guru utama filsafatnya adalah Yuhanna ibnu Hailan, seorang Kristen. Dari Ibnu Hailan-lah Al-Farabi mulai bisa membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya. Beberapa tahun sebelum kitab-kitab Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Al-Farabi telah menguasai bahasa Suriah dan Yunani. Pada 901 M, bersama sang guru, Al-Farabi memutuskan untuk hijrah ke Baghdad yang saat itu menjadi kota metropolis intelektual pada abad pertengahan.
Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) dan awal pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir (908-932 M), Al-Farabi sempat pula pergi ke Konstantinopel untuk memperdalam filsafat dan singgah di Harran.

Karya-karyanya
Pada tahun 910 M, Al-Farabi kembali ke Baghdad. Di Negeri 1001 Malam itu, dia terus mengembangkan ketertarikannya untuk menggali dan mempelajari alam semesta dan manusia. Ketertarikannya pada dua hal itu membuatnya lebih tekun untuk menggali filsafat kuno, terutama filsafat Plato dan Aristoteles. Selain itu, dia juga menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis.
Akhir tahun 942 M, Al-Farabi hijrah dari Baghdad ke Haleb (Aleppo) karena situasi politik yang memburuk. Selama dua tahun tinggal di Aleppo, pada siang hari, Al-Farabi bekerja sebagai penjaga kebun, sedangkan pada malam hari dia membaca dan menulis karya-karya filsafat.
Al-Farabi sempat pula hijrah ke Mesir lalu kembali lagi ke Aleppo pada 949 M. Ketika tinggal di Damaskus untuk yang kedua kalinya, Al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Suriah, Saif Al-Daulah. Saif Al-Daulah sangat terkesan dengan Al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musik, serta penguasaannya atas berbagai bahasa. Menurut banyak sumber, Al-Farabi menguasai 70 macam bahasa dunia.
Semasa hidupnya, Al-Farabi telah menulis sejumlah buku tentang logika, fisika, ilmu jiwa, metafisika, kimia, ilmu politik, musik, dan lain-lain. Yang terpenting di antara karya-karyanya ialah “Agrad al-Kitab ma Ba'da at-Tabi'ah” (Intisari Buku Metafisika), “Al-Jam'u Baina Ra'yai al-Hakimaini” (Mempertemukan Dua Pendapat Filsuf: Plato dan Aristoteles), “Uyun al-Masa'il” (Pokok-pokok persoalan), “Ara'u Ahl al-Madinah” (Pikiran-pikiran Penduduk Kota), dan “Ihsa' al-Ulum” (Statistik Ilmu).
Kehidupan sufi yang dijalani Al-Farabi membuatnya tetap hidup sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Ia tutup usia di Aleppo pada 970 M. Amir Saif Al-Daulah kemudian membawa jenazahnya dan menguburkannya di Damaskus. Ia dimakamkan di pemakaman Bab As-Saghir yang terletak di dekat makam Muawiyah, yang merupakan pendiri dinasti Ummayah.

Pemikiran dan Filsafat Al-Farabi
Sosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filsuf Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam sehingga bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat. “Ilmu logika Al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,” ujar Carra de Vaux. Tidak heran bila para intelektual merasa berutang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental memengaruhi pikiran-pikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Filsafat Al-Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme. Ia menyintesiskan buah pikir dua pemikir besar, yakni Plato dan Aristoteles. Untuk memahami pemikiran kedua filsuf Yunani itu, Al-Farabi secara khusus membaca karya kedua pemikir besar Yunani itu, yakni “On the Soul” sebanyak 200 kali dan “Physics” sampai 40 kali, dengan kecemerlangan otaknya, Al-Farabi mampu melakukan terobosan untuk menggabungkan filsafat Platonik dan Aristotelian dengan pengetahuan mengenai Alquran serta beragam ilmu lainnya. Kemampuannya ini berkat jerih payahnya menimba ilmu pengetahuan dari sejumlah guru yang mumpuni. Ia belajar filsafat Aristoteles dan logika langsung dari seorang filsuf termasyhur, Abu Bishr Matta ibnu Yunus. Dalam waktu yang tak terlalu lama, kecemerlangan pemikiran Al-Farabi mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika.

Cegah Influenza dengan Bawang Putih


Musim pancaroba sudah mulai tiba. Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat membuat kekebalan tubuh Anda melemah. Mencegah datangnya penyakit dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sangatlah penting.
Influenza adalah salah satu penyakit yang sering diderita orang-orang pada masa pancaroba bukan hanya menyerang masyarakat biasa saja tapi termasuk orang-orang kaya juga seperti sekarang ini. Gejala seperti batuk kering, sakit tenggorokan, demam, menggigil, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan, tentu akan sangat mengganggu aktivitas harian Anda.
Penyakit yang diakibatkan oleh virus udara ini mudah sekali menyebar dan menular. Oleh karena itu, Anda perlu meningkatkan kekebalan tubuh Anda agar terhindar dari influenza, demikian yang dilansir Livestrong.
Menambahkan bawang putih segar dalam campuran masakan Anda, seperti sup atau lauk pauk lainnya akan sangat baik. Bawang putih dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kandungan senyawa kimia yang disebut allicin di dalamnya dapat menawarkan manfaat antivirus, membantu lingkungan tubuh Anda dari virus influenza.
Jika tidak suka aroma bawang putih yang menyengat, Anda bisa mencoba mengonsumsi bahan makanan yang tinggi vitamin C, seperti buah kiwi, jeruk, selada air, alfalfa, stroberi, jeruk, dan nanas dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan melindungi tubuh terhadap infeksi influenza. Vitamin C juga baik untuk mencegah kerusakan hati akibat radikal bebas yang berpengaruh terhadap pembuangan zat beracun dan limbah dalam tubuh.